Di usia ke 30 ini, aku lebih banyak berfokus pada kebahagiaan dan salah satu buku yang membuatku lebih sadar akan arti kebahagiaan adalah buku Filsafat Kebahagiaan karya Fahruddin Faiz.

Buku Filsafat Kebahagiaan membeberkan "Kebahagiaan" dalam pemikiran 4 tokoh dunia filsafat dan dari buku tersebut aku jadi mengetahui bahwa ternyata ada banyak penyebab orang tidak bahagia dengan dirinya sendiri.

Dari situlah aku mulai memikirkan lebih jauh "apa yang membuatku kurang bahagia dengan diriku?" dan "kenapa orang tidak bahagia dengan dirinya?". Kenapa kebahagiaan sering kali menjadi tujuan tapi banyak yang tidak menyadari bahwa mereka bisa bahagia kapan saja asalkan caranya tepat.

Dari pemikiran tersebut aku mencatat 8 penyebab orang tidak bahagia dengan diri sendiri yang aku temukan di kehidupan sehari - hariku sebagai berikut :

1. Kurang Mengenal Diri

Salah satu alasan orang tidak bahagia dengan diri sendiri adalah karena kurangnya mengenal diri. Mengenal diri bisa menjadi jalan untuk bahagia karena dengan mengenal diri kita akan lebih tahu apa yang sebenarnya kita inginkan, apa yang sebenarnya kita butuhkan serta apa yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Bayangkan suatu hari kamu ingin makan bakso karena sudah lama tidak makan bakso, lalu kamu sibuk melihat postingan media sosial tentang mie ayam kemudian kamu membeli mie ayam. Meski sama -sama kenyang, biasanya akan tetap menyesal "kenapa ya aku tadi ngga beli bakso aja?".

Rasa ingin makan bakso juga akan tetap tergantung di hari - hari berikutnya dan jadi mengganjal.

Dengan mengenal diri kita akan bisa membuat pilihan - pilihan yang tepat sesuai keinginan kita sehingga terhindar dari penyesalan.

2. Tidak Menerima Apa Adanya

Yang kedua adalah tidak menerima apa adanya. Dari kasus kesalahan membeli bakso yang kemudian akhirnya beli mie ayam membuat tidak bahagia, sebenarnya bisa ditanggulangi dengan "menerima apa adanya".

Menerima apa adanya bukan berarti tidak berusaha, tapi karena memang sudah terlanjur dan tidak bisa diulang, yasudah diterima saja. Pikiranmu jangan ke bakso, beli baksonya nanti saja setelah makan mie ayam atau di lain hari saja. Yang seperti itu biasanya diri jadi lebih tenang, tidak sibuk menyesali yang sudah terjadi dan makanan akan terasa lebih nikmat.

3. Terlalu Memikirkan yang Belum Terjadi

Yang ketiga, untuk bahagia jangan terlalu memikirkan yang belum terjadi. Di sini aku menggunakan kata "TERLALU". Itu berarti memikirkan yang belum terjadi tidak selalu buruk, tapi kalau terlalu memikirkan itu beda lagi.

Misalnya pada kasus cita - cita. Anggaplah kamu punya cita - cita yang membutuhkan modal besar, sedangkan modalmu masih kurang. Lalu kamu terlalu memikirkan "kok aku belum punya modal segitu ya." "Coba aku punya modal segitu.", pemikiran seperti itu baik agar tetap berada dalam jalur cita - cita yang ingin dicapai, tapi tidak baik jika berlebihan.

Bukankah lebih baik berusaha mendapatkan modal atau memikirkan bagaiman cara mendapatkan modal dari pada sibuk memikirkan yang belum terjadi? Nanti ya nanti, sekarang ya sekarang. Lakukan apa yang bisa dilakukan sekarang namun dengan tujuan cita - cita tersebut!

4. Terlalu Memikirkan Pendapat Orang Lain

Salah satu cara terbaik untuk tidak bahagia adalah dengan terlalu memikirkan pendapat orang lain. Ketika kamu mempunyai suatu ide untuk menjadi lebih baik, ada kalanya idemu akan dihalangi atau dikritik secara berlebihan oleh orang lain. 

Sebagian orang berpikir bahwa dihalangi orang lain merupakan sebuah ujian yang harus dilewati, sebagian orang berpikir bahwa itu menjadi sumber ketakutan.

Itu bisa terjadi karena ketika mempunyai suatu ide biasanya kita belum bisa mengukur sejauh mana resiko yang ada serta kemungkinan keberhasilannya. Maka ketika orang lain menyampaikan resiko yang tidak kita ketahui, kita jadi tidak siap.

Padahal belum tentu apa yang disampaikan orang lain itu sebuah kebenaran apalagi jika ia yang menghalangimu itu tidak mengenal bidang yang meliputi idemu tersebut.

Selain itu, resiko adalah sesuatu yang pasti ada, maka bijaklah dalam menerima pemikiran orang lain, apakah itu memang baik untuk didengarkan atau tidak, dengan begitu kamu bisa membuat keputusanmu sendiri, kalau gagal ya karena keputusanmu sendiri sehingga kamu tidak terlalu menyalahkan orang lain nantinya.

5. Terlalu Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Terlalu membandingkan diri dengan orang lain juga merupakan permasalahan yang murni ada di masyarakat. Selain orang tua yang terkadang membandingkan kita dengan orang lain, kadang diri sendiri tanpa sadar membandingkan diri dengan orang lain secara berlebihan.

Misalnya kamu ingin membeli mobil Brio saja karena kecil dan cukup privat, kemudian kamu melihat orang lain membeli Mini Cooper dengan harga yang berkali - kali lipat dari Brio. Lalu kamu jadi ingin membeli Mini Cooper, yang ada kamu malah menambah stres baru.

Belum tentu juga kalau kamu membeli Mini Cooper akan lebih bahagia dari membeli Brio karena biaya yang dikeluarkan lebih banyak, tempat duduk yang lebih sedikit dan sempit serta desain yang juga mungkin berbeda dari ciri khas yang kamu inginkan.

Maka cobalah kurangi membandingkan diri dengan orang lain, tegaslah pada keputusanmu, biasanya itu akan memberikan kepuasan tersendiri karena kamu sendirilah yang memutuskan akan membeli yang mana. 

6. Kurang Mengenal Prioritas

Ada banyak contoh kegagalan mencapai kebahagiaan ketika kurang mengenal prioritas di masyarakat, misalnya mengambil kredit motor dengan cicilan 2 juta per bulan padahal gaji hanya 1,5 juta per bulan dan masih memiliki hutang yang belum dibayar.

Apa dampaknya? Bisa jadi akan merugikan keluarga karena keluarga yang harus mencicil bulanan, hutang jadi berlipat-lipat, bahkan karena depresi bisa jadi akan masuk ke jurang permasalahan yang lebih berat seperti tindakan kriminal.

Maka ketahuilah prioritasmu seperti mana kebutuhan pokok, mana sekunder dan mana tersier. Utamakan yang paling penting dan harus dicukupi dulu sebelum membuat pilihan yang beresiko tinggi.

7. Kurang Bersyukur

Yang satu ini sering disampaikan di berbagai tempat, namun masih banyak yang salah mengartikannya. Bersyukur itu berbeda dengan pasrah, pasrah itu ketika sudah tidak melakukan apa-apa lagi.

Bersyukur itu ketika menerima hasil yang ada setelah berusaha sekuat tenaga. Kalau tidak berusaha lalu mengatakan "aku bersyukur dapat segini", itu bukan bersyukur, itu malas.

Kecuali bersyukur untuk hal yang tidak bisa kita kontrol seperti nafas, detak jantung dan kejadian tak terkontrol misalnya, itu masih bisa disebut bersyukur menurutku. 

Bahkan malas dan tidak mau berusaha dengan baik itu tidak layak disebut pasrah karena biasanya orang pasrah itu ketika sudah mentok usahanya, sehingga hasilnya dipasrahkan kepada Yang Maha Kuasa.

Jadi, cobalah untuk lebih bersyukur atas apa yang sudah kamu dapatkan, berusahalah sebaik - baiknya, bersyukurlah sebanyak - banyaknya.

8. Tidak Mengenal Batas

Di buku Filsafat Kebahagiaan dijelaskan bahwa kata Plato, hakikat manusia adalah bebas. Tapi dalam kebebasan itu ada batas.

Dari situ aku berpikir dan mencari, ternyata ada resiko yang harus ditanggung jika tidak tahu batas.

Misalnya tentang makan, anggap saja normalnya kuat satu piring nasi dan lauk, tapi karena lauknya enak jadi habis 4 piring. Di awal mungkin tidak terasa, tapi nanti efeknya buruk untuk kesehatan. Bisa sakit perut, muntah sampai trauma.

Pikiran manusia memang bebas, tapi manusia itu terbatas secara fisik, jadi kenalilah batasmu agar hidupmu lebih efisien dan tidak dijalani secara berlebihan atau kekurangan.

Nah, itulah 8 penyebab orang tidak bahagia dengan diri sendiri. Berbagai faktor bisa saja ada pada dirimu dan diriku, jadi mari kita sama - sama belajar untuk mengatasi berbagai hal yang kurang tepat pada diri kita agar senantiasa menjadi orang yang berbahagia.